Tentang pengharapan ..

tanggal 29 Maret kemarin yang bertepatan dengan *ehem* ulangtahun gue, teh Rindu bikin acara jalan jalan buat refreshing karena kasian sama kakek yang kayaknya udah penat banget sama rutinitas sehari hari..

jadilah keluarga gue juga di ajakin karena emang sengaja bakalan nyewa 1 mobil tambahan dan yang ngikut pun paling ya cuma itu itu aja ..

destinasi kita jalan jalan kali ini adalah ke Puncak .. ga jauh jauh lah ya itung itung ngabisin weekend panjaaaaaaaaaaaaaang yang ga panjaaaaaaaaang panjaaaaaaaaaaang bgt *halah apasih* :D

penginapan yang akan kita tempatin itu di Andara Resort room alamanda .. sayang banget gue ga ngambil foto Andara resort ini secara keseluruhan, bodoh banget emang , karena terlalu nikmatin liburan aja sih haha

gue tunjukin fotonya aja yang di ambil dari webnya langsung disini yah.. kalian bisa cek sendiri jenis cottage yang tersedia dan rate per night berapa …

ALAMANDA

ALAMANDA

untuk ukuran liburan bareng keluarga, Andara Resort ini cukup nyaman dan bersih dan kalau dikasih angka 1-10 , gue pribadi akan ngasih angka 7,5 .. not bad kan lah ya :)

skip dari review penginapan, sebenarnya yang mau gue ceritain di sini adalah tentang mereka

10003447_10201828825268376_475297685_n

Kakek Djuarta dan Nenek Norma …

di foto itu emang keliatan nenek di kursi roda tapi sebenernya beliau masih bisa berjalan , sedangkan kakek masih nampak segar bugar kan ? :D
fisik nenek sekarang sudah tidak sebagus dulu karena setahun ini mengalami diabetes yang menyebabkan 3 jari kaki kanan nya harus di amputasi dan daya pengelihatannya pun sudah tidak tajam lagi …
kasian banget setahun ini nenek udah banyak keluar masuk rumah sakit tapi finally 2014 ini nenek udah berangsur angsur sehat kembali :D

nah pas liburan kemarin, pagi hari nya kakek udah ribet tuh pengen jalan jalan pagi,
abis sarapan doi ngajak nenek jalan dengan guyonan yang jayus haha *dasar aki aki* :D
satu percakapan kakek sama nenek yang bikin gue nyeeeeeees banget , gini:

Kakek: “Kita ke kaki Gunung Salak yuk Ma..”
Nenek: “Kemana aja, mama ikut..”

kita disana asik aja nyeletuk plese deh kek, gunung salak jauh keleeeeeeeeees terus ketawa ketiwi tapi point yang gue lihat disini adalah, ya Allah mereka berdua so sweet sekali ..

yang seperti ini cinta yang saangat membuat iri karena meski sudah lama namun tetap bertahan dengan kesetiaan masing masing ..

jaman dulu sebelum nenek sakit seperti sekarang, beliau lah yang mengurus semua keperluan kakek dan ga ada pembantu sama sekali .. kakek disini termasuk tipe yang banyak mau dan ribet sih haha …
tapi pas nenek sakit, kakek ga lepas tangan. kemana mana beliau ikut sampe begadang begadang. dan setelah semua kekurangan mereka di hari tua, tetep bisa nerima pribadi masing masing.

jadi sekarang tiap sujud tambahin doanya ke Allah ga hanya berdoa agar punya pasangan yang saleh yang dapat membimbing pada kehidupan dunia dan akhirat, sayang sama gue dan keluarga namun juga ditambah agar diberikan kesehatan dan cinta satu sama lain terhadap pasangan yang terjaga sampai maut yang memisahkan amin .. sounds lebay ya ?

ga semua orang loh diberi kesempatan menikmati hari tua bersama orang yang di sayang…

………….

anyway tadi iseng browsing macam macam dan bertemulah dengan ini.. lumayan pas banget dengan suasana hati….
enjoy yah ;)

ameliaresi:)

.
.
.
.
.
.
.
“Dalam Doaku

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

Aku mencintaimu..

Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu

(1989)”
― Sapardi Djoko Damono

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s